Professionalism And Role Expansion: A Review Of The Politics Industry On The Placement Of Active Police Officers In Civilian Positions Following The Revision Of The 2026 Police Officers Law
DOI:
https://doi.org/10.35719/rch.v7i2.446Keywords:
constitutional politic, civilian supremacy, Indonesian National Police, civilian positions, maqāṣid asy-syarī‘ahAbstract
The Third Amendment to Law Number 2 of 2002 concerning the Indonesian National Police, passed by the House of Representatives on 9 June 2026 and promulgated as Law Number 5 of 2026, has sparked significant debate over placing active police officers in civilian positions without requiring them to resign from active service. Article 28A permits such placement insofar as the position bears a connection to police functions. The government frames this policy as a way to strengthen professionalism and optimize state administrative resources. In contrast, critics contend that widening civilian access for active officers may create overlapping authorities, erode institutional neutrality, and weaken the principle of civilian supremacy. This study examines the regulation of active police officers' placement in civilian offices under the Third Amendment and analyses the policy from the perspective of siyāsah dustūriyyah. It employs a normative legal method with statutory, conceptual, and comparative approaches. Primary legal materials comprise legislation and relevant Constitutional Court decisions, while secondary materials include constitutional law literature, Islamic political jurisprudence, and indexed journal articles; the analysis combines legal interpretation with the framework of maqāṣid al-sharī‘ah and established legal maxims. The findings indicate that such placement is justifiable only when it serves genuine public welfare, responds to real institutional needs, and preserves accountability and civilian supremacy. From the perspective of siyāsah dustūriyyah, the policy must be constrained by the principles of trustworthiness (amānah), public benefit (maṣlaḥah), and the prevention of harm (dar’ al-mafāsid) so that it does not evolve into an excessive expansion of authority contrary to the objectives of just and constitutional governance.
Keywords: constitutional politics; civilian supremacy; Indonesian National Police; civilian positions; maqāṣid al-sharī‘ah.
Perubahan Ketiga Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang disetujui Dewan Perwakilan Rakyat pada 9 Juni 2026 dan diundangkan sebagai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2026 menimbulkan perdebatan mengenai perluasan ruang penempatan anggota Polri aktif pada jabatan sipil tanpa harus mengundurkan diri dari dinas kepolisian. Pasal 28A membuka penempatan tersebut sepanjang jabatan tersebut memiliki keterkaitan dengan fungsi kepolisian. Pemerintah memandang kebijakan ini sebagai instrumen untuk memperkuat profesionalisme dan mengoptimalkan sumber daya aparatur negara, sedangkan sejumlah kalangan menilai perluasan akses jabatan sipil bagi anggota Polri aktif berpotensi menimbulkan tumpang tindih kewenangan, mengganggu netralitas institusi, serta melemahkan prinsip supremasi sipil. Penelitian ini menganalisis pengaturan penempatan anggota Polri aktif pada jabatan sipil dalam Perubahan Ketiga tersebut dan mengkajinya melalui perspektif siyāsah dustūriyyah. Penelitian merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan komparatif. Bahan hukum primer berupa peraturan perundang-undangan dan putusan Mahkamah Konstitusi yang relevan, sedangkan bahan hukum sekunder meliputi literatur hukum tata negara, fikih siyasah, dan artikel jurnal terindeks; analisis memadukan interpretasi hukum dengan pendekatan maqāṣid al-syarī‘ah dan kaidah-kaidah fikih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penempatan anggota Polri aktif pada jabatan sipil hanya dapat dibenarkan apabila memenuhi kemaslahatan umum, menjawab kebutuhan kelembagaan yang nyata, serta tetap menjamin akuntabilitas dan supremasi sipil. Dalam perspektif siyāsah dustūriyyah, kebijakan tersebut harus dibatasi oleh prinsip amanah, kemaslahatan, dan pencegahan kerusakan agar tidak berkembang menjadi ekspansi peran yang bertentangan dengan tujuan penyelenggaraan pemerintahan yang adil dan konstitusional.
Kata kunci: siyāsah dustūriyyah; supremasi sipil; Polri; jabatan sipil; maqāṣid al-syarī‘ah.
References
Book
Al-Māwardī, Abu al-Hasan. Al-Aḥkām al-Sulṭāniyyah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1985.
Al-Raysuni, Ahmad. Nazariyyat al-Maqasid ‘inda al-Imam al-Syatibi. Virginia: IIIT, 1995.
Al-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Asybah wa al-Nazair. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998.
Asshiddiqie, Jimly. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika, 2019.
Auda, Jasser. Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach. London: IIIT, 2008.
Djazuli, A. Fiqh Siyasah: Implementasi Kemaslahatan Umat dalam Rambu-Rambu Syariah. Jakarta: Kencana, 2018.
Effendi, Sofian. Reformasi Tata Kelola Pemerintahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2020.
Finer, Samuel E. The Man on Horseback: The Role of the Military in Politics. London: Routledge, 2002.
Huda, Ni’matul. Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers, 2023.
Huntington, Samuel P. The Soldier and the State: The Theory and Politics of Civil-Military Relations. Cambridge: Harvard University Press, 1957.
Ibn Taymiyyah. As-Siyāsah asy-Syar‘iyyah fi Iṣlāḥ ar-Rā‘ī wa ar-Ra‘iyyah. Kairo: Dar al-Hadits, 2005.
Ibrahim, Johnny. Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif. Malang: Bayumedia Publishing, 2019.
Iqbal, Muhammad. Fiqh Siyasah: Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam. Jakarta: Prenadamedia Group, 2014.
Khallaf, Abdul Wahhab. Al-Siyāsah al-Syar‘iyyah. Kairo: Dar al-Qalam, 1988.
Mahfud MD. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta, 2017.
Mahfud MD. Politik Hukum di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers, 2022.
Marzuki, Peter Mahmud. Penelitian Hukum. Edisi revisi. Jakarta: Kencana, 2021.
Mietzner, Marcus. Military Politics, Islam, and the State in Indonesia. Singapore: ISEAS Publishing, 2009.
Muradi. Politik Keamanan dan Demokrasi di Indonesia. Bandung: Intrans Publishing, 2019.
Prasojo, Eko. Reformasi Birokrasi dalam Praktik. Jakarta: Kompas, 2021.
Qaradawi, Yusuf al-. Min Fiqh ad-Dawlah fi al-Islam. Kairo: Dar al-Syuruq, 1997.
Ridwan HR. Hukum Administrasi Negara. Depok: Rajawali Pers, 2023.
Legislation
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4168.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82.
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 292.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 141.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2026 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Putusan Mahkamah Konstitusi yang relevan dengan penugasan anggota Polri/TNI aktif pada jabatan di luar institusinya (dirujuk sesuai nomor perkara yang berlaku).
Journal
Andiko, Toha. “Pemberdayaan Qawā‘id Fiqhiyyah dalam Penyelesaian Masalah-Masalah Fikih Siyasah Modern.” Al-‘Adalah 12, no. 1 (2014). https://doi.org/10.24042/adalah.v12i1.178.
Bin Abubakar, Marzuki, dkk. “Pemikiran Politik Islam: Studi Analisis Pemikiran Ibnu Taimiyah Mengenai Hakikat Negara.” Politica: Jurnal Hukum Tata Negara dan Politik Islam 4, no. 2 (2018): 20–42. https://doi.org/10.32505/politica.v4iII.363.
Jowan, Jowan, dan Doni Zukriadi. “Militer di Balik Meja Birokrasi: Reformulasi Kewenangan TNI dan Krisis Supremasi Sipil dalam Demokrasi Indonesia.” Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik 5, no. 5 (2025): 4284–4294. https://doi.org/10.38035/jihhp.v5i5.4772.
Mustafid. “Etika Pemerintahan Berbasis Fikih Siyasah di Era Digital.” El-Sirry: Jurnal Hukum Islam dan Sosial 2, no. 1 (2024): 29–42. https://doi.org/10.24952/ejhis.v2i1.11025.
Nango, Herianto, Moh. Sabri R. Waraga, Roy Marthen Moonti, dan Mohamad Anwar Kasim. “Tinjauan Yuridis terhadap Rancangan Undang-Undang TNI dalam Perspektif Supremasi Sipil dan Negara Hukum.” Mahkamah: Jurnal Riset Ilmu Hukum 2, no. 3 (2025): 261–272. https://doi.org/10.62383/mahkamah.v2i3.887.
Putri, Utari Lestari, dan Suja Caniago. “Tinjauan Fiqh Siyasah Dusturiyah terhadap Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum.” JISRAH: Jurnal Integrasi Ilmu Syariah 2, no. 2 (2021): 193. https://doi.org/10.31958/jisrah.v2i2.4347.
Riza, Erik. “Hubungan Sipil dan Militer di Era Reformasi.” Jurnal Communitarian 2, no. 1 (2019): 167–181. https://doi.org/10.56985/jc.v2i1.96.
Rohman, Abdurrahman N. “The Existence of Maslahah Mursalah as the Basis of Islamic Law Development in Indonesia.” Krtha Bhayangkara 13, no. 2 (2019): 251–260. https://doi.org/10.31599/krtha.v13i2.9.
Sabrian, Muhammad Fajar, dan Muhammad Yasir Harahap. “Pengangkatan Anggota Aktif TNI sebagai Sekretaris Kabinet dalam Perspektif UU Nomor 34 Tahun 2004 dan Fikih Siyasah.” Asas Wa Tandhim: Jurnal Hukum, Pendidikan dan Sosial Keagamaan 5, no. 1 (2026): 39–56. https://doi.org/10.47200/awtjhpsa.v5i1.3083.
Sembiring, Oscar Haris, dan Khalid. “Implementasi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI terhadap Prajurit TNI yang Menduduki Jabatan Sipil Perspektif Siyāsah Dustūriyyah.” Al-Sulthaniyah 15, no. 1 (2026): 313–323. https://doi.org/10.37567/al-sulthaniyah.v15i1.5043.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Ahmad Fauzan, Akhmad Faqihudin Zuhdi, A. Faiq Bahtiar

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

