Reforming Legal Protection for Children through Pre-Marriage Counselling Services to Prevent Child Marriage at the Office of Religious Affairs
DOI:
https://doi.org/10.35719/rch.v7i2.448Keywords:
child marriage, Office of Religious Affairs (KUA), pre-marital counselling, maqāṣid al-syarī‘ah, islamic family lawAbstract
Child marriage remains a persistent legal and social challenge in Indonesia, despite legal reforms that have raised the minimum age for marriage. The Office of Religious Affairs (KUA) plays a strategic role in preventing child marriage through the provision of pre-marital counselling, particularly through the Marriage Counselling (Bimwin) and School-Age Youth Counselling (BRUS) programmes. This study aims to critically analyse legal protection for children through the model of pre-marital counselling service management in the context of child marriage, as well as the extent to which pre-marital counselling functions as a legal protection tool for children when evaluated through the framework of Islamic family law. The research method employed was descriptive qualitative analysis based on a socio-legal approach, with data selected from the KUA offices in Ajung, Pakusari, and Sumbersari in Jember Regency through observation, in-depth interviews, and documentary analysis. The research findings indicate that the model of pre-marital course practices at the KUA in cases of child marriage is not yet optimal in helping to fulfil children’s rights, as the substance of the material and the service management model remain general in nature and are insufficient in integrating issues of children’s rights and the protection of offspring into programmes for school-age youth guidance and marriage counselling. From the perspective of Islamic family law, this situation indicates that the realisation of the objectives of maqāṣid al-syarī‘ah, particularly ḥifẓ al-nafs and ḥifẓ al-nasl, has not been optimal. This article emphasises the need to reformulate the management of pre-marital courses so that they are preventive, contextual, and in line with the principles of child protection in Islamic family law.
Keywords: child marriage, Office of Religious Affairs (KUA), pre-marital counselling, maqāṣid al-Syarī‘ah, islamic family law.
Perkawinan anak tetap menjadi tantangan hukum dan sosial yang persisten di Indonesia, meskipun telah dilakukan reformasi hukum yang menaikkan batas usia minimum untuk menikah. Kantor Urusan Agama (KUA) memiliki peran strategis dalam mencegah perkawinan anak melalui pengelolaan bimbingan pra-nikah, khususnya dalam program Bimbingan Pernikahan (Bimwin) dan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis perlindungan hukum bagi anak melalui model pengelolaan layanan bimbingan pra-nikah dalam konteks pernikahan anak, serta sejauh mana bimbingan pra-nikah berfungsi sebagai alat perlindungan hukum bagi anak ketika dievaluasi melalui kerangka hukum keluarga Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kualitatif deskriptif berdasarkan pendekatan sosiologis-hukum, dengan data dipilih dari KUA Ajung, Pakusari, dan Sumbersari di Kabupaten Jember melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model praktik kursus pra-nikah di KUA dalam kasus pernikahan anak belum optimal dalam membantu memenuhi hak-hak anak karena substansi materi dan model pengelolaan layanan masih bersifat umum dan belum memadai dalam mengintegrasikan isu-isu hak anak dan perlindungan keturunan dalam program bimbingan remaja usia sekolah dan bimbingan pernikahan. Dari perspektif hukum keluarga Islam, kondisi ini menunjukkan bahwa realisasi tujuan maqāṣid al-syarī‘ah, khususnya ḥifẓ al-nafs dan ḥifẓ al-nasl, belum optimal. Artikel ini menekankan perlunya mereformulasi pengelolaan kursus pra-pernikahan agar bersifat preventif, kontekstual, dan sesuai dengan prinsip-prinsip perlindungan anak dalam hukum keluarga Islam.
Kata kunci: pernikahan anak, Kantor Urusan Agama (KUA), konseling pranikah, maqāṣid al-syarī‘ah, hukum keluarga islam.
References
Book
Rhona K.M. Smith, Njal Hostmaelingen, Christian Ranheim, Satya Arinanto, Fajrul Falaakh, Enny Soeprapto, Ifdhal Kasim, Rudi M. Rizki, dan Suparman Marzuki. Hukum Hak Asasi Manusia. Yogyakarta: PUSHAM UII, 2008.
Warassih, Esmi. Penelitian Hukum Interdisipliner: Sebuah Pengantar Menuju Sosio-Legal. Yogyakarta: Thafa Media, 2016.
Journal
Abubakar, Ali. The Right of a Child Outside the Legal Marriage of a Biological Father: The Analysis of Ḥifẓ Al-Nafs as Law’ Illat. 5, no. 1 (2021).
Afrianti, Lisa, Umar Yusuf, dan Siti Marlina. Pelaksanaan Kursus Calon Pengantin Sebelum Pernikahan Dalam Mengatasi Problematika Rumah Tangga ( Studi Di KUA Kecamatan Jambi Luar Kota ). 13, no. 2 (2022).
Anshori, Teguh. Analisis Usia Ideal Perkawinan Dalam Perspektif Maqasid Syari’Ah. 1, no. 1 (2019).
Ayu, Rizqa Febri dan Kamsi. Protection of Children as a Philosophical and Sociological Base for the Age Limit: Maqāṣid Sharī’a Version of Jasser Auda. 22, no. 1 (2022).
Ayuanda, Leila Nisya, Nur Intan Kusuma, dan Amin Aji Budiman. Pre-Marital Education ( PME ) Program for Marriage Readiness and Stunting Prevention to Women of Childbearing Age. 6, no. 7 (2024).
Davies, Gareth. he Relationship between Empirical Legal Studies and Doctrinal Legal Research. 13, no. 2 (2020).
Fauziyah, Ahmad dan Dedi Sumanto. Penetapan Asal Usul Anak Dari Hasil Pernikahan Sirri Dalam Perspektif Maqashid Syariah Di Pengadilan Agama Limboto. 5, no. 1 (2024).
Gunawan, Indra, Rr. Rina Antasari, dan Zuraidah Azkia. Pemahaman Sensivitas Gender Pegawai Kantor. 8, no. 2 (2024).
Hendayani, Siti Nur Endah, Yeni Rosyeni, dan Tri Setiowati. Care Management of Premarital Women Using Clear Counseling Techniques, Roles Body Attitudes and Gather Approaches. 10, no. 5 (2022).
Kamaruzaman, Nur Al-farhain, Mashitah Abdul Mutalib, dan Nur Aina Abdullah. Tinjauan Awal Keberkesanan Modul Bersepadu Kursus Pra-Perkahwinan Islam ( MBKPI ) Kepada Pemohon Perkahwinan Bawah Umur : Analisis Aspek Hifz Al-Nafs. 7, no. 2 (2024).
Kulesa, John, Spandana Induru, Elizabeth Hubbard, dan Priti Bhansali. The Conceptual Framework : A Practical Guide. 14, no. 11 (2024).
Latifiani, Dian. The Darkest Phase for Family: Child Marriage Prevention and Its Complexity in Indonesia. 4, no. 2 (2019).
Nadhrah, Fatiya, Abd Mukhsin, dan Shoaleh Hashemi. etween Religious Guidance and Shariah Legal Reform: Rethinking Indonesia’s Premarital Guidance for School-Age Adolescents (BRUS) Program. 23, no. 2 (2025).
Nur Chanifah, Putri Ghoida Habibillah, Ria Anjani, dan Abu Samsudin. Islamic Sexuality Education to Prevent Sexual Violence in Higher Education. (2025) 4, no. 2 (t.t.).
Putra, Reyhan Argha, Sri Suwitri, dan Teuku Afrizal. Kolaborasi Stakeholder Dalam Mengatasi Angka Pernikahan Dini Di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali. 14, no. 3 (2025).
Ramadhani, Sufina Anugerah, Nirwan Junus, Sri Nanang, dan Meiske Kamba. Efforts of the Office of Religious Affairs in Reducing Underage Marriage Rates. 7, no. 1 (2025).
Sabilla, Felira Nispadia, Ike Rachmawati, dan Rizki Hegia Sampurna. he Influence of the Effectiveness of the School-Age Adolescent Guidance Program ( BRUS ) on Adolescent Perceptions Regarding Early Marriage in Sukabumi Districts. 2, no. 1 (2025).
Said, Zainal dan M Ali Rusdi. Implementasi Keputusan Dirjen Bimas Islam Nomor 379 Tahun 2018 Dalam Pembentukan Keluarga Sakinah ( Studi Di Kua Kecamatan Barru Kabupaten Baru). 3, no. 3 (2023).
Tauviqillah, Muhamad Hamdan, Widyanto Naufal Mahdy, dan Eni Zulaiha. nalisa Gender Pada Ayat-Ayat Alquran Yang Mengisyaratkan Pernikahan Anak : Menyoal Makna Bulugh Al-Nikah Pada Surah Al- Nisa Ayat 6. 8, no. 4 (2024).
Thariq, Muhammad Aqwam dan Nofi Sri Utami. Protection of Lineage (Hifz Al-Nasl) in Determining the Legal Parentage of Children Born Out of Wedlock: A Normative Analysis and Judicial Practice of the Pringsewu Religious Court. 15, no. 1 (2026).
Yolanda, Yuke dan Fuat Hasanudin. Fostering School-Age Teenagers : An Effort to Repress Child Marriage in The Perspective of Talcott Parsons. 9, no. 2 (2025).
Yuni, Irma. Urgensi Bimbingan Pranikah Terhadap Pasangan Di Bawah Umur. 9, no. 2 (2020).
Zakyyah. Nasab Anak Luar Kawin Menurut Hifzhu Nasl. 9, no. 2 (2016).
Report and Interview
Abdullah. 2025. Head of Pakusari Religious Affairs Office, interview. 12 September.
Anwar, Choirul. 2025. Head of Sumbersari Religious Affairs Office, interview. 12 September.
Hasanah, Imla’ul. 2025. Counsellor at Sumbersari Religious Affairs Office, Interview.22 September.
Silvia, Mega dan Bilal Ramadhan. Kehamilan Tak Diinginkan Jadi Faktor Tingginya Perkawinan Anak Di Jember. 2025. https://surabaya.kompas.com/read/2025/08/18/104956378/kehamilan-tak-diinginkan-jadi-faktor-tingginya-perkawinan-anak-di-jember.
Zubaidi, Edi. 2025. Counsellor at Ajung Religious Affairs Office, 22 Oktober 2025
Legislations:
Marriage Law No. 1 of 1974 . 1974
The Amendment Marriage Law No. 16 of 2019. 2019
The Dissemination of the Compilation of Islamic Law No. 1 of 1991. 1991
Indonesian Constitutional Court Decision No. 22/PUU-XV/2017
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Busriyanti, Erfina Khilmi, Umar Chamdan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

